Waspada! Climate Change Bikin Indonesia Alami Kerugian Ekonomi hingga Rp 1 Triliun

Berita206 Dilihat

Climate Change atau perubahan iklim harusnya menjadi isu yang perlu diperhatikan baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Pasalnya, perubahan iklim ini berdampak pada kerugian negara.

Menurut data World Meteorogical Organization (WMO), pada tahun 2022 beberapa negara tercatat mengalami kerugian tinggi akibat perubahan iklim ini. Indonesia mengalami kerugian mencapai lebih dari 74 USD atau sekitar Rp 1,13 triliun. Angka ini bahkan melebihi dua negara lainnya yaitu Australia sekitar Rp 12 miliar, dan Filipina Rp 621 miliar.

Lantas apa penyebab utama kerugian dalam sektor ekonomi yang mencapai triliunan tersebut?

Fenomena La Nina setidaknya menjadi pemicu akan kerugian ekonomi beberapa negara tersebut. La Nina menyebabkan Suhu Muka Laut (SML) di bagian Samudera Pasifik mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. 

Baca Juga:RSAB Harapan Kita Bantah Bayi Nala Alami Gizi Buruk Akibat Salah Diberikan Susu

Akibatnya, potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik Tengah mengalami penurunan. Sebagian besar daerah seperti Kiribati dan Tuvalu mengalami kekeringan. 

Namun di sisi ekstrim, meningkatkan curah hujan di wilayah Australia dan Indonesia sehingga menderita kerugian ekonomi parah akibat banjir.

Menurut Database Bencana Internasional, setidaknya ada 35 peristiwa bencana alam yang dilaporkan pada tahun 2022, dan 70 persen di antaranya merupakan peristiwa banjir. 

Lebih dari 8 juta orang terdampak langsung akan bencana ini. Badai bahkan menjadi penyebab utama kematian di tahun 2022, terutama di Filipina dan Fiji.

Selain Fenomena La Nina, gelombang panas laut yang terjadi di beberapa wilayah juga menjadi pemicu kerugian ekonomi. Gelombang panas paling menonjol terjadi di wilayah timur Australia dan selatan Papua Nugini di Laut Solomon, dan Laut Koral, yang terjadi selama lebih dari enam bulan di tahun 2022.

Baca Juga  Pecahkan Rekor MURI, Buttonscarves dan LAICA Menggelar Acara Pound Fit Serentak di 20 Kota

Baca Juga:Shin Tae-yong Semprot Wasit Usai Laga Malaysia vs Timnas Indonesia, Kecewa Harimau Malaya Dapat Penalti

Namun memang, sebagian besar wilayah Pasifik Barat Daya telah menunjukan pemanasan muka laut (0-700 m) sejak tahun 1993. Pemanasan yang begitu kuat, melebihi 2-3 kali laju pemanasan rata-rata global, di antaranya di Laut Solomon dan di sebelah timur Pulau Solomon, Laut Arafura, Timur Filipina, di sepanjang pantai selatan Indonesia, dan di Laut Tasman.

Di Indonesia sendiri, perkiraan luasan gletser di bagian barat Papua menunjukan total luas es pada April 2022 sekitar 0,23 km2 yang semula 0,27 km2 pada Juli 2021. Dari 2016 hingga 2022, tercatat rata-rata pengurangan luas es mencapai 0,07 km2. 

Hal itu disebabkan tak lain karena pemanasan laut yang begitu tinggi di wilayah tersebut. Setidaknya pemanasan laut berkontribusi 40 persen dari kenaikan permukaan air laut. Akibatnya secara tidak langsung mengubah jalur badai dan memengaruhi ekosistem laut.

____________________________

Kontributor: Ayuni Sarah

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *